Rabu, 01 April 2015

Seminar

GREAT THINKERS
WOLFGANG ISER:
“THE ACT OF READING : CARA BENAR MEMBACA TEKS”
PEMBICARA :
Prof. Dr. Chamamah Soeratno (Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya UGM)
Prof. Dr. Sangidu, M.Hum. (Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya UGM)
Moderator : Dr. Betty Mauli Rosa Bustam M.a
Yogyakarta, 25 maret 2015


                Hari ini adalah hari libur jeda kuliah, ya walaupun bukan libur panjang karena hari ini hanya libur jeda, yaitu satu hari masuk untuk Ujian Tengah Semester dan hari berikutnya libur, dan seterusnya. Dan pada jeda hari libur inilah aku memutuskan untuk mengikuti seminar di Sekolah Pasca Sarjana Universitas Gajah Mada di jalan teknika utara. Walaupun awalnya sempat nyasar tapi berkat para satpam akupun bisa mengikuti seminar tersebut dengan tepat waktu, yaitu sekitar jam 08.00 WIB. Sepeda yang aku jalankan dengan cepat menjadi bukti atas ketakutanku agar tidak terlambat, karena baru kali ini aku mengikuti seminar di Sekolah Pasca Sarjana. Setelah sampai, aku berlari menuju lantai 4 gedung pasca sarjana, karena seminar di adakan di ruangan seminar yang berada di lantai 4. Kaki yang masih tegang karena tadi mengayuh sepeda kupaksa untuk menapak satu demi satu tangga menuju lantai 4.
                Di lantai 4, ku lihat 3 orang duduk menjaga meja. Ya mereka ada para pemegang kertas daftar hadir. Awalnya aku agak canggung karena aku belum mendaftar untuk mengikuti seminar ini. Tapi ternyata disitu ada 3 jenis kertas daftar hadir, pertama buat para tamu undangan, kedua buat para tamu yang sudah mendaftar via online dan telfon, dan ketiga buat para tamu yang mendaftar di hari ini. Akhirnya aku mengisi daftar isi yang ketiga, yaitu bagi para tamu yang baru akan mendaftar hari ini. Dari semua tamu yang sudah mendaftar aku kaget, semua nama yang hadir di belakangnya ada embel-embel gelarnya semua, mulai dari SE, Sag, Mag, M.Hum, Dr, Prof, dll. Sementara aku S1 aja masih semester awal. Akupun mengisi daftar isi dengan pelan namun pasti “AHMAD ARIEFUDDIN”, di kolom sampingnya disuruh ngisi alamat, nomor hp, email dan tanda tangan. Setelah mengisi daftar isi, aku dipersilahkan memasuki rungan seminar. Ku buka pintu sambil mengambil nafas dalam-dalam. udara segar AC menyambutku, di tambah suara keriuhan orang yang sudah masuk terlebih dahulu. Aku bingung semua di dalam duduknya di kursi bagian belakang, sementara kursi paling depan dan nomor dua dari depan dibiarkan kosong. Karena aku bingung dan canggung akupun memilih kursi yang paling depan. Duduk aku dengan detak jantung yang berdebar cepat. Dalam benaku aku berseru “apa ini yang namanya perkumpulan para cendikiawan”. Tak lama setelah aku duduk, dari pintu masuklah seorang tokoh yang rambutnya sudah hampir plontos, berkaca mata tebal dan berjalan dengan penuh wibawa, setelah beliau duduk tetap 5 kursi di sebelah kananku. Dan orang-orang yang duduk di belakang langsung mencium tangannya sambil berucap “Selamat pagi Prof?”, beliau hanya menjawab dengan senyum penuh kesederhanaan. Sementara aku yang duduk 5 kursi di sampingnya masih bingung, sampil melirik. Dan beberapa detik kemudian ada seorang berdasi dan bersepatu hitam mengkilap mendekatiku “maaf mas ini tempat duduk para tamu undangan”. Mendengar ucapan orang itu, aku langsung bergegas pindah ke kursi nomor dua dari depan. Sampai akhirnya aku menyadari “pantesan semua orang tidak ada yang duduk di depan eh ternyata itu kursi buat para tamu undangan yang mempunyai gelas rata-rata Dr , Prof dan Ir. Gimana aku bisa dengan wajah lugu ini menduduki kursi yang sudah disiapkan untuk para orang-orang hebat itu.
                Setelah ruangan itu sudah hampir penuh, panitiapun membacakan susunan acara. Tiba suasana yang riuh berubah seketi menjadi suasana tenang penuh antusias. Sungguh ini suasana yang baru aku alami di ruangan yang sebesar ini. Tak lama kemudian sang moderator sebagai penagung jawab berjalannya acara berjalan keatas meja yang di belakangnya terpasang layar lebar. Beliau adalah Dr. Betty Mauli Rosa Bustam M.ag, seorang perempuan muda yang cerdas, setiap kata yang keluar dari lisannya penuh makna dan membuat para hadirin mengamatinya penuh hikmat. Dan kemudia seluruh narasumber juga naik ke meja di sebelah moderator. Sebelum  acara di buka, moderator memanggil direktur pasca sarjana untuk membuka secara resmi acara yang di  gelar secara rutin setiap tiga bulan sekali ini. Suasana sunyi berubah dengan ribuan tepuk tangan karena acara resmi dibuka.
                Aku yang datang dengan modal nekat, mendapatkan banyak ilmu yang begitu banyaknya. Kalau kata bapak-bapak di sebelahku materi yang di sampaikan narasumber seperti mata kuliah 5 sks. Hampir semua yang mengamati setiap kata demi kata yang disampaikan oleh pemateri langsung di tulis di buku maupun laptop mereka masing-masing. Aku sendiri sibuk mengamati orang di sebelahku yang sibuk menulis di buku kecilnya. Seorang perempuan bertopi yang di balik, dan baju di bagian lengan yang di lipat di tambah kaca mata yang di menggantung di dadanya.
“Narasumbernya keren ya” aku sodorkan perkataan supaya dia meliriku yang dari tadi sibuk mengamati dia.
Detik terus berjalan, tapi ucapanku yang kutujukan ke dia sepertinya tertiup oleh kesibukan dia yang terus menulis setiap perkataan yang di berikan oleh narasumber. Akupun membalas kecuekan dia dengan ikut-ikutan menulis juga. Aku ambil selembar kertas dari tas dan bolpoin. Di palingkan wajahku yang sebelumnya fokus ke perempuan disebelahku menuju ke para narasumber yang sedang memberikan kajian. Aku menulis satu demi satu kalimat yang aku anggap penting. Di tengah-tengah aku menulis tiba-tiba kejutan itu datang. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar