Rabu, 01 April 2015

Puisi Pagi

Pagi ini berhawa buram
Kalau saja bukan demi masa depan
Tidur pulas pilihan menyenangkan
Membayangkan keindahan semu dalam fikiran
Tapi sayang
Jiwa menarik raga untuk bergerak
Mengingatkan akan kebutuhan hidup
Menampar kemalasan yang memeluk mesra
Mendorong rasa bosan yang bersumbu syahdu
Dan mendekap kenyataan hidup
Bahwa tidak ada pilihan lain
Selain harus terus bergerak

Persendian sering terasa linu
Karena beban yang terus terpikul
Membungkukan pinggang yang makin renta
Semua sama
Sudah tidak bisa menatap ke angkasa
Karena bintang, rembulan dan matahari
Tak sedikitpun memperduikan
Awalnya terlihat mempesona
Tapi akhirnya ya gini
Justru semakin menyiksa

Teropong-teropong dari para ahli
Memberikan gambaran keindahan di angkasa
Tapi disini penduduk bumi tidak merasakanya
Karena kami terus sibuk bekerja
Tapi setelah mendapatkan gaji
Sebagian diharuskan untuk di kumpulkan
Di jadikan nuklir-nuklir yang meledak di angkasa
Memberikan keramaian yang di perdebatkan
Para ahli mendapatkan keuntungan
Karena disitulah mata pencaharian
Yaitu merekam dan menyebarluaskan

Langit terus saja mengurung bumi
Sementara sang bumi
Terjebak dalam bom waktu
Langit yang di kawal oleh ribuan bintang-bintang
Sementara sang bumi
Di pasung dalam kepentingan pribadi
Langit yang menyembunyikan miliaran benda angkasa
Sementara sang bumi
Di bungkam dalam keharusan untuk menyetor uang

Kini sang bumi berkhayal bersama tetesan keringat
Bahwa hari akhirlah awal dari kehidupan yang kekal
Yang akan menghentikan ketimpangan ini
Yang membuat bom kehabisan waktunya dalam diamnya




Ahmad Ariefuddin,
 “Bumi dan Langit”
Yogyakarta 2 April 2015.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar