Sabtu, 13 Juni 2015

Kritik pendidikanFormal dari Jalaludin Rahmat




                Sekolah-sekolah bersaing keras satu sama lain demi mencapai kualifikasi tertinggi sesuai dengan alat ukur yang ditetapkan oleh pemerintah; runag-ruang kelas mirip pabrik untuk memproduksi sumber daya manusia yang akan djual di pasar tenaga kerja; guru-guru yang sibuk mempersiapkan, melaksanakan dan memeriksa hasil tes yang makin lama makin canggih; para siswa yang mengarahkan seluruh perhatiannya untuk lulus dalam tes-tes itu dengan ukuran kelulusan yang makin lama makin berat. Guru tidak lagi mendidik, ia hanya mengajar. Suasana sekolah yang menyenangkan, menggairahkan, dan membosankan. Dari lembaga pendidikan keluarlah orang-orang yang mengubah kearifan menjadi informasi, masyarakat menjadi pasar, agama menjadi komoditas, politik menjadi rekayasa, dan kesetiakawanan menjadi nepotisme.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar