Rabu, 30 September 2015

Ciri-ciri berfikir secara filsafat


                Berfilsafat adalah berfikir. Hal ini tidak berarti bahwa berpikir dan berfilsafat, karena berfilsafat itu berfikir dengan ciri-ciri tertentu. Ada beberapa ciri berfikir secara kefilsafatan, yatu :
1.       Berfikir secara radikal. Radikal berasal dan kata Yunani, yaitu radix yang berarti “akar”. Berfikir secara radikal adalah berfikir sampai ke akar-akarnya. Berfikir sampai ke hakikat, esensi, atau sampai ke substansi yang dipikirkan. Manusia yang berfilsafat tidak puas hanya memperoleh pengetahuan lewat indra yang selalu berubah dan tidak tetap. Manusia yang berfilsafat dengan akalnya berusaha untuk dapat menangkap pengetahuan hakiki, yaitu pengetahuan yang mendasari segala pengetahuan indrawi.
2.       Berfikir secara universal (umum). Berfikir secara universal adalah berfikir tentang hal-hal serta proses-proses yang bersifat umum. Filsafat bersangkutan dengan pengalaman umum dan umat manusia (common experience of mankind). Dengan jalan penjajakan yang radikal, filsafat berusaha untuk sampai pada kesimpulan-kesimpulan universal. Bagaimana cara atau jalan yang ditempuh untuk mencapai sasaran pemikirannya dapat berbeda-beda. Akan tetapi, yang dituju adalah keumuman yang diperoleh dan hal-hal khusus yang ada dalam kenyataan.
3.       Berfikir secara konseptual. Yang konsep disini adalah hasil generalisasi dan abstraksi dan pengalaman tentang hal-hal serta proses-proses individual. Berfilsafat tidak berfikir tentang manusia tertentu atau manusia khusus, tetapi berikir tentang manusia secara umum. Dengan ciri yang konseptual ini, berfikir secara berfilsafat melampaui batas pengalaman hidup sehari-hari.
4.       Berfikir secara koheren dan konsisten. Koheren artinya sesuai dengan kaidah-kaidah berfikir (logis). Konsisten artinya tidak mengandung kontradiksi. Baik koheren maupun konsisten, keduanya dapat diterjemahkan dalam bahasa indonesia, yaitu runtut. Adapun yang dimaksud runtut adalah bagan konseptual yang disusun tidak terdiri atas pendapat-pendapat yang saling berkontradiksi di dalamnya.
5.       Berfikir secara sistematik. Sistematik berasal dari kata sistem yang artinya kebulatan dan sejumlah unsur yang saling berhubungan menurut tata pengaturan untuk mencapai sesuatu maksud atau menunaikan sesuatu peranan tertentu. Dalam mengemukakan jawaban terhadap sesuatu masalah, digunakan pendapat atau argumen yang merupakan uraian kefilsafatan yang saling berhubungan secara teratur dan terkandung adanya maksud atau tujuan tertentu.
6.       Berfikir secara komperhensif. Komperhensif adalah mencakup secara menyeluruh. Berfikir secara kefilsafatan berusaha untuk menjelaskan fenomena yang ada di alam semesta secara kesuluruhan sebagai suatu sistem.
7.       Berfikir secara bebas. Sampai batas-batas yang luas, setiap filsafat boleh dikatakan merupakan sesuatu hasil dari pemikiran yang bebas. Bebas dari prasangka-prasangka sosial, historis, kultural, atau religius. Sikap-sikap demikian ini banyak dilakukan oleh filsuf-filsuf dari segala zaman. Semisal Socrates, ia memilih meminum racun dan menatap maut dari pada harus mengorbankan kebebasan berfikir menurut keyakinannya, walaupun sebenarnya banyak dari murid-muridnya yang sanggup untuk melepaskannya dari hukuman mati itu, namun ia justru menolaknya. Kemudian Spinoza karena khawatir kehilangan kebebasan berfikir bebas, ia menolak pengangkatannya sebagai guru besar filsafat pada Universitas Heidelberg.
8.       Berfikir dengan pemikiran yang bertanggung jawab. Pertanggung jawaban yang pertama adalah terhadap hati nuraninya. Di dini tampak hubungan antara kebebasan berfikir dalam filsafat dengan etika yang melandasinya.

Hal 1-3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar