Dunia ini tidaklah buruk-sebaliknya,
ia merupakan ladang akhirat. Apa yang kamu tanam disini akan kamu panen di sana.
Dunia ini adalah jalan menuju berkah abadi dan karena ia baik-layak di damba
dan di puji. Yang buruk adalah memperlakukan dunia sehingga kamu menjadi buta
pada kebenaran dan di kuasai sepenuhnya oleh hasrat, keinginan, dan ambisimu
kepadanya. Orang beriman bukan menghindari kenikmatan dunia, melainkan tidak
meletakkan nilai yang tinggi kepadanya.”
Jika aku mendapati keberhasilan maka itu karena restu ibuku, tapi jika aku mendapati kegagalan itu karena kesalahanku "Ahmad Ariefuddin"
Minggu, 13 Desember 2015
Kisah Syaikh Abdul Qadir Jailani ngobrol dengan “Setan”
Alkisah, Ratusan tahun silam, Syekh
Abdul Qadir Jailani merasa ada yang membangunkannya setiap kali menjelang
subuh. Dengan begitu, beliau tak pernah terlambat dalam menunaikan shalat
fajar. Namun, hatinya penasaran siapa gerangan yang berbaik hati selalu
membangunkan dirinya tanpa bosan. Beliau memohon kepada Allah agar dibukakan
rahasia kepadanya.
Menjelang suatu fajar, ternyata
beliau tahu bahwa yang membangunkannya adalah setan. “Kenapa kau melakukan itu?”
tanya Syekh penasaran. “Ya, aku membangunkanmu agar kau tak ketinggalan waktu
sembahyangmu,”. Jawab setan itu. “Tumben kau baik sekali kali ini.”
“Bukan,
aku melakukan semua ini dengan terus menerus karena aku tahu kalau kau sampai
lalai memenuhi kewajiban-kewajibanmu, kau akan merasakan kesedihan yang amat
sangat, dan selama hari berikutnya kau akan berdoa jauh lebih khusuk lagi,
memohon ampun dengan setulus-tulusnya, lalu kian memperbanyak shalat sunnah dan
menambah banyak kebajikan demi menebus kelalaianmu.”
Sabtu, 14 November 2015
Rabu, 21 Oktober 2015
Asas Masyarakat Islam yang telah diletakkan oleh Rasulullah
,
antara lain:
1.
Al-Ikba (Persaudaraan)
2.
Al-musawah (persamaan
rasial manusia)
3.
Al-tasamuh (toleransi
beragama)
4.
Al-tasyawur (musyawarah)
5.
Al-ta’awun (tolong-menolong
dalam kebaikan)
6.
Al-adalah (keadilan untuk
semua)
Rabu, 30 September 2015
Ciri-ciri berfikir secara filsafat
Berfilsafat
adalah berfikir. Hal ini tidak berarti bahwa berpikir dan berfilsafat, karena
berfilsafat itu berfikir dengan ciri-ciri tertentu. Ada beberapa ciri berfikir
secara kefilsafatan, yatu :
1. Berfikir secara radikal. Radikal berasal dan kata Yunani, yaitu
radix yang berarti “akar”. Berfikir secara radikal adalah berfikir sampai ke
akar-akarnya. Berfikir sampai ke hakikat, esensi, atau sampai ke substansi yang
dipikirkan. Manusia yang berfilsafat tidak puas hanya memperoleh pengetahuan
lewat indra yang selalu berubah dan tidak tetap. Manusia yang berfilsafat
dengan akalnya berusaha untuk dapat menangkap pengetahuan hakiki, yaitu
pengetahuan yang mendasari segala pengetahuan indrawi.
2. Berfikir secara universal (umum). Berfikir secara universal
adalah berfikir tentang hal-hal serta proses-proses yang bersifat umum.
Filsafat bersangkutan dengan pengalaman umum dan umat manusia (common
experience of mankind). Dengan jalan penjajakan yang radikal, filsafat berusaha
untuk sampai pada kesimpulan-kesimpulan universal. Bagaimana cara atau jalan
yang ditempuh untuk mencapai sasaran pemikirannya dapat berbeda-beda. Akan
tetapi, yang dituju adalah keumuman yang diperoleh dan hal-hal khusus yang ada
dalam kenyataan.
3. Berfikir secara konseptual. Yang konsep disini adalah hasil
generalisasi dan abstraksi dan pengalaman tentang hal-hal serta proses-proses
individual. Berfilsafat tidak berfikir tentang manusia tertentu atau manusia
khusus, tetapi berikir tentang manusia secara umum. Dengan ciri yang konseptual
ini, berfikir secara berfilsafat melampaui batas pengalaman hidup sehari-hari.
4. Berfikir secara koheren dan konsisten. Koheren artinya sesuai
dengan kaidah-kaidah berfikir (logis). Konsisten artinya tidak mengandung
kontradiksi. Baik koheren maupun konsisten, keduanya dapat diterjemahkan dalam
bahasa indonesia, yaitu runtut. Adapun yang dimaksud runtut adalah bagan
konseptual yang disusun tidak terdiri atas pendapat-pendapat yang saling
berkontradiksi di dalamnya.
5. Berfikir secara sistematik. Sistematik berasal dari kata sistem
yang artinya kebulatan dan sejumlah unsur yang saling berhubungan menurut tata
pengaturan untuk mencapai sesuatu maksud atau menunaikan sesuatu peranan
tertentu. Dalam mengemukakan jawaban terhadap sesuatu masalah, digunakan
pendapat atau argumen yang merupakan uraian kefilsafatan yang saling
berhubungan secara teratur dan terkandung adanya maksud atau tujuan tertentu.
6. Berfikir secara komperhensif. Komperhensif adalah mencakup
secara menyeluruh. Berfikir secara kefilsafatan berusaha untuk menjelaskan
fenomena yang ada di alam semesta secara kesuluruhan sebagai suatu sistem.
7. Berfikir secara bebas. Sampai batas-batas yang luas, setiap
filsafat boleh dikatakan merupakan sesuatu hasil dari pemikiran yang bebas. Bebas
dari prasangka-prasangka sosial, historis, kultural, atau religius. Sikap-sikap
demikian ini banyak dilakukan oleh filsuf-filsuf dari segala zaman. Semisal
Socrates, ia memilih meminum racun dan menatap maut dari pada harus
mengorbankan kebebasan berfikir menurut keyakinannya, walaupun sebenarnya
banyak dari murid-muridnya yang sanggup untuk melepaskannya dari hukuman mati
itu, namun ia justru menolaknya. Kemudian Spinoza karena khawatir kehilangan
kebebasan berfikir bebas, ia menolak pengangkatannya sebagai guru besar
filsafat pada Universitas Heidelberg.
8. Berfikir dengan pemikiran yang bertanggung jawab. Pertanggung
jawaban yang pertama adalah terhadap hati nuraninya. Di dini tampak hubungan
antara kebebasan berfikir dalam filsafat dengan etika yang melandasinya.
Hal 1-3
PERBANDINGAN ANTARA FILSAFAT TIMUR DAN FILSAFAT BARAT
Priyono[1] menyebutkan empat bidang besar yang menjadi
titik pembeda antara filsafat Timur dan Barat, yang secara khas dihayati oleh
masing-masing budaya, yaitu: (1) Pengetahuan, (2) sikap terhadap alam, (3)
ideal dan cita-cita hidup, dan (4) satatus persona.
Dalam filsafat Barat, rasio (akal
budi) memegang peranan utama. Hal ini tergambar antara lain dari ungkapan
Aristoteles, bahwa rasio merupakan mahkota kodrat manusia. Dengan rasio
tersebut manusia di dalam Barat mampu mengembangkan ilmu dan membebaskan
manusia dari mitos-mitos. Pada bagian lain, filsafat Timur lebih menekankan
unsur intuisi (cahaya ilahi) jika dalam budaya Barat, belajar misalnya
ditujukan untuk mampu menjawab tantangan alam, dalam dunia Timur justru
sebaliknya, belajar adalah untuk mendidik manusia menjadi bijaksana. Dengan
kebijaksanaan manusia akan menghayati hidup lebih baik dan sempurna karena
hidup merupakan seni yang sulit dan membutuhkan refleksi sepanjang hidup,
sebuah sikap yang tidak mengandalkan akal budi sebagai kekuatan utama.
Tentang sikap terhadap alam, tampak
bahwa filsafat Barat bersifat eksploitatif (menguras atau mengeruk). Dengan
ilmu dan teknologi yang dikuasainya, alam ditaklukan dan dikuras untuk
kepentingan manusia. Hal ini berbeda dengan filsafat Timur yang memandang bahwa
alam pun mempunyai jiwa, bahwa manusia adalah bagian dari alam dan antara
manusia dan alam berasal dari zat yang satu. Terutama dalam hal ini India dan
Cina amat menekankan unsur harmoni dengan alam tersebut.
Menurut Priyono,[2]
ideal atau cita-cita hidup masyarakat Barat adalah to do is mpre
important than to be yang artinya, “Bertindak adalah lebih penting
daripada berada”. Sikap untuk mengisi hidup selalu bertindak dan bekerja
setinggi mungkin. Sebaliknya, manusia Timur lahir dan hidup dalam budaya yang
menyebut diri to be is more important than to do yang artinya, “Ada
dan hadir lebih penting daripada bertindak”. Kensekuensi dari ideal hidup
demikian menyebabkan manusia Timur cenderung pasif, konvensional, dan dengan
sendirinya tidak menyukai konflik. Padahal, melalui konflik itulah manusia
Barat mengadakan perbaikan-perbaikan dalam rangka menjawab persoalan-persoalan
manusia. Jadi, tatkala manusia Barat berdebat tentang cara memperoleh materi,
manusia Timur justru di ajarkan untuk hidup tenang bersahaja.
Selanjutnya, mengenai status
persona, filsafat Barat memandang manusia sebagai individu yang berhadapan
dengan masyarakat. Itulah sebabnya dalam dunia Barat (khususnya dalam lapangan
hukum), hak-hak individu lebih dikedepankan dari pada hak-hak kolektif. Kebalikannya,
dalam filsafat Timur, manusia individu justru di pandang sebagai bagian dari
masyarakat itu. dapat dikatakan hal ini sinkron dengan cara pandang filsafat
Timur terhadap hubungan manusia dengan alam.
Sementara itu, filsafat
(negara-negara) Islam apabila mengacu sepenuhnya kepada agama Islam, dapat
dikatakan telah mulai menjembatani corak filsafat Barat dan Timur ini. Walaupun
demikian, dalam kenyataannya, filsafat (negara-negara) Islam itu telah
berinteraksi dengan pandangan hidup masyarakat setempat, sehingga unsur-unsur
ketimuran sebagaimana tampak pada filsafat India dan Cina ikut mewarnai
filsafat (negar-negara) Islam ini. Dalam sejarah bahkan terbukti bahwa filsafat
ini mulai kehilangan pengaruhnya di Eropa seiring dengan direbutnya kembali
kawasan Maghribi dari tangan orang-orang Islam. Juga ada wilayah, yang semula
berada dalam satu pemerintahan di kawasan Masyriqi, mulai melepaskan diri.
Persia (Iran), misalnya kendati masih beragama Islam, menyatakan merdeka dan
lepas dari pemerintah Arab.
Seiring dengan penyebaran agama
Islam, pengaruh filsafat ini juga menyebar ke kawasan Afrika dan Asia lainnya,
termasuk di Indonesia. Di Asia Selatan dan Tenggara, agama Islam masuk ke dalam
sistem sosial yang terutama telah banyak dipengaruhi oleh Buddhisme dan
Hinduisme yang telah dianut dari dulu selama berabad-abad. Corak filsafat yang
di bawa oleh agama Islam ini kemudian bercampur dengan Buddhisme dan Hinduisme,
dan menjadi pandangan hidup bagi masyarakat luas.
Secara ekstrim, perbandingan antara
filsafat Timur dan Barat dapat pula di amati dari pembedaan yang dianut oleh Eerste
Nederlandse Sustematisch Ingerichte Encyclopaedie.[3]
Dalam banyak hal, misalnya, filsafat
Barat juga bersifat asli (natuurlijk), konservatif, kolektivitas, dan
sebagainya. Perbedaan tersebut dapat dijadikan masukan, tetapi bukan pegangan
mutlak. Manusia di manapun ia berada, tidak mungkin dapat hidup dalam satu
kutub yang ekstrem demikian. Filsafat Indonesia yang notabene termasuk filsafat
Timur juga tidak ingin berada pada salah satu kutub yang terpisah demikian.
Dalam filosofi bangsa-bangsa Timur,
seperti India, Cina, dan Indonesia, selalu diajarkan, bahwa antara mikrokosmos
dan makrokosmos senantiasa hidup harmonis: selaras, serasi dan seimbang.
Filosofi demikian dalam satu sisi boleh jadi merupakan penyebab keterbelakangan
bangsa-bangsa Timur (dengan beberapa pengecualian) dari bangsa-bangsa Barat,
tetapi di sisi lain filosofi tersebut justru merupakan kemenagan bangsa-bangsa
Timur itu. kemajuan teknologi lebih dahulu di nikmati oleh bangsa-bangsa Barat
karena mereka secara gencar berani mengeksploitasi alam, sekalipun akibatnya
kerusakan lingkungan hidup pun lebih banyak terjadi di belahan dunia Barat.
Dengan atribut-atribut demikian,
tidak mengherankan apabila filsafat Barat berhasil mencapai kematangannya
dengan melahirkan ilmu-ilmu positif dan teknologi sampai akhirnya masyarakat
Barat sendiri mempertanyakan kemajuan-kemajuan itu, seperti terbukti dengan
munculnya problem ekologi, alienasi, instrumentalisasi akal budi, dan
segmentasi bidang kehidupan. Problem-problem ini tidak pernah dipermasalahkan
oleh filsafat Timur. Dalam filsafat Timur, manusia menyatu dengan realitas, dan
dari sana manusia merefleksikan inti dirinya dan inti realitasnya. Karena
kesatuan begitu ditekankan, dengan sendirinya masalah-masalah yang ada dalam
pemikiran Barat (ekologi, elienasi, dan lain-lain) tidak dipersoalkan oleh
filsafat Timur.[4]
Dengan latar belakang seperti itu,
tidak berarti filsafat Timur lebih terbelakang dalam segala hal dibandingan
dengan filsafat Barat. Seperti dinyatakan oleh Sutrisno,[5]
filsafat Timur (khususnya India) mengandung ciri sentral religiositas yang
mendalam. Artinya, filsafat selalu dikaitkan dengan persoalan keselamatan
manusia. Keselamatan itu di capai dengan penguasaan diri dan akhirnya mencapai
penemuan diri. Ciri kedua, filsafat Timur tidak membagi-bagi mana yang
rasional, tetapi menekankan segi praktis, dalam arti bahwa filsafat senantiasa
dikaitkan dengan tujuan hidup manusia sendiri: mengatasi derita, mengatasi
duka. Lebih dari itu filsafat Timur tidak bisa menjawab persoalan-persoalan
teknologis yang ada dalam masyarakat modern dewasa ini.
Dengan demikian, menurut Sutrisno,
pertanyaan tentang bagaimana filsafat Timur menjawab tantangan-tantangan
masyarakat modern sebenarnya kurang tepat diajukan, mengingat filsafat Timur
itu mau menyajikan falsafah hidup. Falsafah hidup itu ditawarkan kepada mereka
yang mau. Di sinilah segi menarik filsafat Timur itu, yaitu filsafat Timur
tidak bersifat memaksa. Filsafat Timur ternyata mampu menawarkan suatu falsafah
hidup dengan seluruh kebebasan yang diberikannya.
Sekalipun terdapat berbagai
perbedaan itu, filsafat Timur dan Barat sesungguhnya dapat bekerja sama dan
saling melengkapi. Sebagaimana dinyatakan oleh Sutrisno, filsafat Timur dapat
belajar dari rasionalisme dan positivisme Barat. Filsafat Barat pun dapat
belajar dari intuisi Timur mengenai kesatuan dalam kosmos dan mengenai
identitas mikrokosmos dan makrokosmos. Falsafat Barat mungkin lebih duniawi,
filsafat Timur mungkin terlalu mistik.
Tuntutan untuk mengadakan kerja sama
di atas semakin urgensi saat ini, mengingat proses globalisasi sedang dan akan
terus berlangsung sebagai akibat kemajuan teknologi komunikasi. Masalah
negara-negara di dunia Timur akan dirasakan pula sebagai masalah bagi
negara-negara lain di dunia Barat, demikian pula sebaliknya. Problem-problem
ekologi dan kemanusiaan, misalnya, sejak lama menjadi perhatian baik filsafat
Timur maupun Barat, dan masalah-masalah itu sampai saat ini tetap menuntut
pemecahannya bersama-sama.
[1] Priyono,
H., Nilai Budaya Barat dan Timur Menuju Tata Hubungan Baru, dalam Tim Redaksi
Driyarkara, Jelajah Hakikat Pemikiran Timur, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,
1993), hlm. 4-14.
[2] Ibid.,
hlm. 204
[3]
Duyvendak, J.J.L., “Filsafat Tiongkok Klasik (kuno)”, dalam Eerste Nederlandse
Systematichte Ingerichte Encylopaedie, Jilid I (terjemahan Poedjioetomo),
(Yogyakarta: tanpa penerbit (tidak dipublikasikan), 1956) hlm. 2.
[4]
Sutrisno, M,. “Kata Pengantar”, dalam: Tim Redaksi Driyarkara, Jelajah Hakikat
Pemikiran Timur, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993), hlm. X.
[5] Ibid.,
hlm. xi-xii.
Langganan:
Postingan (Atom)

