Jika aku mendapati keberhasilan maka itu karena restu ibuku, tapi jika aku mendapati kegagalan itu karena kesalahanku "Ahmad Ariefuddin"
Jumat, 20 Mei 2016
Jumat, 11 Maret 2016
Tentang YAYASAN INFAK BUKU
Yayasan ini saya dirikan pada akhir 2015. tepatnya pada bulan september.
Yayasan ini memberi tempat bagi siapapun-baik mahasiswa, masyarakat umum atau pihak mana pun- untuk menyumbangkan buku-buku-baik bagus maupun baru-yang masih layak baca.
Dan kemudian Yayasan Infak Buku akan mensortirnya dan membagikannya lagi ke berbagai pihak. Baik itu perpustakaan desa, komunitas, ataupun TBM yang memang membutuhkan bantuan buku.
Untuk info lebih lanjut tentang YAYASAN INFAK BUKU. silahkan bisa menghubungi
SMS 08985149402
Telfon 085729002826
Facebook Yayasan Infak Buku
Fanspage Yayasan Infak Buku
Twitter @YIB_Yogyakarta
Email yayasaninfakbuku@gmail.com
Kamis, 25 Februari 2016
Minggu, 13 Desember 2015
Pesan Ibnu Arabi tentang Dunia
Dunia ini tidaklah buruk-sebaliknya,
ia merupakan ladang akhirat. Apa yang kamu tanam disini akan kamu panen di sana.
Dunia ini adalah jalan menuju berkah abadi dan karena ia baik-layak di damba
dan di puji. Yang buruk adalah memperlakukan dunia sehingga kamu menjadi buta
pada kebenaran dan di kuasai sepenuhnya oleh hasrat, keinginan, dan ambisimu
kepadanya. Orang beriman bukan menghindari kenikmatan dunia, melainkan tidak
meletakkan nilai yang tinggi kepadanya.”
Kisah Syaikh Abdul Qadir Jailani ngobrol dengan “Setan”
Alkisah, Ratusan tahun silam, Syekh
Abdul Qadir Jailani merasa ada yang membangunkannya setiap kali menjelang
subuh. Dengan begitu, beliau tak pernah terlambat dalam menunaikan shalat
fajar. Namun, hatinya penasaran siapa gerangan yang berbaik hati selalu
membangunkan dirinya tanpa bosan. Beliau memohon kepada Allah agar dibukakan
rahasia kepadanya.
Menjelang suatu fajar, ternyata
beliau tahu bahwa yang membangunkannya adalah setan. “Kenapa kau melakukan itu?”
tanya Syekh penasaran. “Ya, aku membangunkanmu agar kau tak ketinggalan waktu
sembahyangmu,”. Jawab setan itu. “Tumben kau baik sekali kali ini.”
“Bukan,
aku melakukan semua ini dengan terus menerus karena aku tahu kalau kau sampai
lalai memenuhi kewajiban-kewajibanmu, kau akan merasakan kesedihan yang amat
sangat, dan selama hari berikutnya kau akan berdoa jauh lebih khusuk lagi,
memohon ampun dengan setulus-tulusnya, lalu kian memperbanyak shalat sunnah dan
menambah banyak kebajikan demi menebus kelalaianmu.”
Sabtu, 14 November 2015
Rabu, 21 Oktober 2015
Asas Masyarakat Islam yang telah diletakkan oleh Rasulullah
,
antara lain:
1.
Al-Ikba (Persaudaraan)
2.
Al-musawah (persamaan
rasial manusia)
3.
Al-tasamuh (toleransi
beragama)
4.
Al-tasyawur (musyawarah)
5.
Al-ta’awun (tolong-menolong
dalam kebaikan)
6.
Al-adalah (keadilan untuk
semua)
Rabu, 30 September 2015
Ciri-ciri berfikir secara filsafat
Berfilsafat
adalah berfikir. Hal ini tidak berarti bahwa berpikir dan berfilsafat, karena
berfilsafat itu berfikir dengan ciri-ciri tertentu. Ada beberapa ciri berfikir
secara kefilsafatan, yatu :
1. Berfikir secara radikal. Radikal berasal dan kata Yunani, yaitu
radix yang berarti “akar”. Berfikir secara radikal adalah berfikir sampai ke
akar-akarnya. Berfikir sampai ke hakikat, esensi, atau sampai ke substansi yang
dipikirkan. Manusia yang berfilsafat tidak puas hanya memperoleh pengetahuan
lewat indra yang selalu berubah dan tidak tetap. Manusia yang berfilsafat
dengan akalnya berusaha untuk dapat menangkap pengetahuan hakiki, yaitu
pengetahuan yang mendasari segala pengetahuan indrawi.
2. Berfikir secara universal (umum). Berfikir secara universal
adalah berfikir tentang hal-hal serta proses-proses yang bersifat umum.
Filsafat bersangkutan dengan pengalaman umum dan umat manusia (common
experience of mankind). Dengan jalan penjajakan yang radikal, filsafat berusaha
untuk sampai pada kesimpulan-kesimpulan universal. Bagaimana cara atau jalan
yang ditempuh untuk mencapai sasaran pemikirannya dapat berbeda-beda. Akan
tetapi, yang dituju adalah keumuman yang diperoleh dan hal-hal khusus yang ada
dalam kenyataan.
3. Berfikir secara konseptual. Yang konsep disini adalah hasil
generalisasi dan abstraksi dan pengalaman tentang hal-hal serta proses-proses
individual. Berfilsafat tidak berfikir tentang manusia tertentu atau manusia
khusus, tetapi berikir tentang manusia secara umum. Dengan ciri yang konseptual
ini, berfikir secara berfilsafat melampaui batas pengalaman hidup sehari-hari.
4. Berfikir secara koheren dan konsisten. Koheren artinya sesuai
dengan kaidah-kaidah berfikir (logis). Konsisten artinya tidak mengandung
kontradiksi. Baik koheren maupun konsisten, keduanya dapat diterjemahkan dalam
bahasa indonesia, yaitu runtut. Adapun yang dimaksud runtut adalah bagan
konseptual yang disusun tidak terdiri atas pendapat-pendapat yang saling
berkontradiksi di dalamnya.
5. Berfikir secara sistematik. Sistematik berasal dari kata sistem
yang artinya kebulatan dan sejumlah unsur yang saling berhubungan menurut tata
pengaturan untuk mencapai sesuatu maksud atau menunaikan sesuatu peranan
tertentu. Dalam mengemukakan jawaban terhadap sesuatu masalah, digunakan
pendapat atau argumen yang merupakan uraian kefilsafatan yang saling
berhubungan secara teratur dan terkandung adanya maksud atau tujuan tertentu.
6. Berfikir secara komperhensif. Komperhensif adalah mencakup
secara menyeluruh. Berfikir secara kefilsafatan berusaha untuk menjelaskan
fenomena yang ada di alam semesta secara kesuluruhan sebagai suatu sistem.
7. Berfikir secara bebas. Sampai batas-batas yang luas, setiap
filsafat boleh dikatakan merupakan sesuatu hasil dari pemikiran yang bebas. Bebas
dari prasangka-prasangka sosial, historis, kultural, atau religius. Sikap-sikap
demikian ini banyak dilakukan oleh filsuf-filsuf dari segala zaman. Semisal
Socrates, ia memilih meminum racun dan menatap maut dari pada harus
mengorbankan kebebasan berfikir menurut keyakinannya, walaupun sebenarnya
banyak dari murid-muridnya yang sanggup untuk melepaskannya dari hukuman mati
itu, namun ia justru menolaknya. Kemudian Spinoza karena khawatir kehilangan
kebebasan berfikir bebas, ia menolak pengangkatannya sebagai guru besar
filsafat pada Universitas Heidelberg.
8. Berfikir dengan pemikiran yang bertanggung jawab. Pertanggung
jawaban yang pertama adalah terhadap hati nuraninya. Di dini tampak hubungan
antara kebebasan berfikir dalam filsafat dengan etika yang melandasinya.
Hal 1-3
PERBANDINGAN ANTARA FILSAFAT TIMUR DAN FILSAFAT BARAT
Priyono[1] menyebutkan empat bidang besar yang menjadi
titik pembeda antara filsafat Timur dan Barat, yang secara khas dihayati oleh
masing-masing budaya, yaitu: (1) Pengetahuan, (2) sikap terhadap alam, (3)
ideal dan cita-cita hidup, dan (4) satatus persona.
Dalam filsafat Barat, rasio (akal
budi) memegang peranan utama. Hal ini tergambar antara lain dari ungkapan
Aristoteles, bahwa rasio merupakan mahkota kodrat manusia. Dengan rasio
tersebut manusia di dalam Barat mampu mengembangkan ilmu dan membebaskan
manusia dari mitos-mitos. Pada bagian lain, filsafat Timur lebih menekankan
unsur intuisi (cahaya ilahi) jika dalam budaya Barat, belajar misalnya
ditujukan untuk mampu menjawab tantangan alam, dalam dunia Timur justru
sebaliknya, belajar adalah untuk mendidik manusia menjadi bijaksana. Dengan
kebijaksanaan manusia akan menghayati hidup lebih baik dan sempurna karena
hidup merupakan seni yang sulit dan membutuhkan refleksi sepanjang hidup,
sebuah sikap yang tidak mengandalkan akal budi sebagai kekuatan utama.
Tentang sikap terhadap alam, tampak
bahwa filsafat Barat bersifat eksploitatif (menguras atau mengeruk). Dengan
ilmu dan teknologi yang dikuasainya, alam ditaklukan dan dikuras untuk
kepentingan manusia. Hal ini berbeda dengan filsafat Timur yang memandang bahwa
alam pun mempunyai jiwa, bahwa manusia adalah bagian dari alam dan antara
manusia dan alam berasal dari zat yang satu. Terutama dalam hal ini India dan
Cina amat menekankan unsur harmoni dengan alam tersebut.
Menurut Priyono,[2]
ideal atau cita-cita hidup masyarakat Barat adalah to do is mpre
important than to be yang artinya, “Bertindak adalah lebih penting
daripada berada”. Sikap untuk mengisi hidup selalu bertindak dan bekerja
setinggi mungkin. Sebaliknya, manusia Timur lahir dan hidup dalam budaya yang
menyebut diri to be is more important than to do yang artinya, “Ada
dan hadir lebih penting daripada bertindak”. Kensekuensi dari ideal hidup
demikian menyebabkan manusia Timur cenderung pasif, konvensional, dan dengan
sendirinya tidak menyukai konflik. Padahal, melalui konflik itulah manusia
Barat mengadakan perbaikan-perbaikan dalam rangka menjawab persoalan-persoalan
manusia. Jadi, tatkala manusia Barat berdebat tentang cara memperoleh materi,
manusia Timur justru di ajarkan untuk hidup tenang bersahaja.
Selanjutnya, mengenai status
persona, filsafat Barat memandang manusia sebagai individu yang berhadapan
dengan masyarakat. Itulah sebabnya dalam dunia Barat (khususnya dalam lapangan
hukum), hak-hak individu lebih dikedepankan dari pada hak-hak kolektif. Kebalikannya,
dalam filsafat Timur, manusia individu justru di pandang sebagai bagian dari
masyarakat itu. dapat dikatakan hal ini sinkron dengan cara pandang filsafat
Timur terhadap hubungan manusia dengan alam.
Sementara itu, filsafat
(negara-negara) Islam apabila mengacu sepenuhnya kepada agama Islam, dapat
dikatakan telah mulai menjembatani corak filsafat Barat dan Timur ini. Walaupun
demikian, dalam kenyataannya, filsafat (negara-negara) Islam itu telah
berinteraksi dengan pandangan hidup masyarakat setempat, sehingga unsur-unsur
ketimuran sebagaimana tampak pada filsafat India dan Cina ikut mewarnai
filsafat (negar-negara) Islam ini. Dalam sejarah bahkan terbukti bahwa filsafat
ini mulai kehilangan pengaruhnya di Eropa seiring dengan direbutnya kembali
kawasan Maghribi dari tangan orang-orang Islam. Juga ada wilayah, yang semula
berada dalam satu pemerintahan di kawasan Masyriqi, mulai melepaskan diri.
Persia (Iran), misalnya kendati masih beragama Islam, menyatakan merdeka dan
lepas dari pemerintah Arab.
Seiring dengan penyebaran agama
Islam, pengaruh filsafat ini juga menyebar ke kawasan Afrika dan Asia lainnya,
termasuk di Indonesia. Di Asia Selatan dan Tenggara, agama Islam masuk ke dalam
sistem sosial yang terutama telah banyak dipengaruhi oleh Buddhisme dan
Hinduisme yang telah dianut dari dulu selama berabad-abad. Corak filsafat yang
di bawa oleh agama Islam ini kemudian bercampur dengan Buddhisme dan Hinduisme,
dan menjadi pandangan hidup bagi masyarakat luas.
Secara ekstrim, perbandingan antara
filsafat Timur dan Barat dapat pula di amati dari pembedaan yang dianut oleh Eerste
Nederlandse Sustematisch Ingerichte Encyclopaedie.[3]
Dalam banyak hal, misalnya, filsafat
Barat juga bersifat asli (natuurlijk), konservatif, kolektivitas, dan
sebagainya. Perbedaan tersebut dapat dijadikan masukan, tetapi bukan pegangan
mutlak. Manusia di manapun ia berada, tidak mungkin dapat hidup dalam satu
kutub yang ekstrem demikian. Filsafat Indonesia yang notabene termasuk filsafat
Timur juga tidak ingin berada pada salah satu kutub yang terpisah demikian.
Dalam filosofi bangsa-bangsa Timur,
seperti India, Cina, dan Indonesia, selalu diajarkan, bahwa antara mikrokosmos
dan makrokosmos senantiasa hidup harmonis: selaras, serasi dan seimbang.
Filosofi demikian dalam satu sisi boleh jadi merupakan penyebab keterbelakangan
bangsa-bangsa Timur (dengan beberapa pengecualian) dari bangsa-bangsa Barat,
tetapi di sisi lain filosofi tersebut justru merupakan kemenagan bangsa-bangsa
Timur itu. kemajuan teknologi lebih dahulu di nikmati oleh bangsa-bangsa Barat
karena mereka secara gencar berani mengeksploitasi alam, sekalipun akibatnya
kerusakan lingkungan hidup pun lebih banyak terjadi di belahan dunia Barat.
Dengan atribut-atribut demikian,
tidak mengherankan apabila filsafat Barat berhasil mencapai kematangannya
dengan melahirkan ilmu-ilmu positif dan teknologi sampai akhirnya masyarakat
Barat sendiri mempertanyakan kemajuan-kemajuan itu, seperti terbukti dengan
munculnya problem ekologi, alienasi, instrumentalisasi akal budi, dan
segmentasi bidang kehidupan. Problem-problem ini tidak pernah dipermasalahkan
oleh filsafat Timur. Dalam filsafat Timur, manusia menyatu dengan realitas, dan
dari sana manusia merefleksikan inti dirinya dan inti realitasnya. Karena
kesatuan begitu ditekankan, dengan sendirinya masalah-masalah yang ada dalam
pemikiran Barat (ekologi, elienasi, dan lain-lain) tidak dipersoalkan oleh
filsafat Timur.[4]
Dengan latar belakang seperti itu,
tidak berarti filsafat Timur lebih terbelakang dalam segala hal dibandingan
dengan filsafat Barat. Seperti dinyatakan oleh Sutrisno,[5]
filsafat Timur (khususnya India) mengandung ciri sentral religiositas yang
mendalam. Artinya, filsafat selalu dikaitkan dengan persoalan keselamatan
manusia. Keselamatan itu di capai dengan penguasaan diri dan akhirnya mencapai
penemuan diri. Ciri kedua, filsafat Timur tidak membagi-bagi mana yang
rasional, tetapi menekankan segi praktis, dalam arti bahwa filsafat senantiasa
dikaitkan dengan tujuan hidup manusia sendiri: mengatasi derita, mengatasi
duka. Lebih dari itu filsafat Timur tidak bisa menjawab persoalan-persoalan
teknologis yang ada dalam masyarakat modern dewasa ini.
Dengan demikian, menurut Sutrisno,
pertanyaan tentang bagaimana filsafat Timur menjawab tantangan-tantangan
masyarakat modern sebenarnya kurang tepat diajukan, mengingat filsafat Timur
itu mau menyajikan falsafah hidup. Falsafah hidup itu ditawarkan kepada mereka
yang mau. Di sinilah segi menarik filsafat Timur itu, yaitu filsafat Timur
tidak bersifat memaksa. Filsafat Timur ternyata mampu menawarkan suatu falsafah
hidup dengan seluruh kebebasan yang diberikannya.
Sekalipun terdapat berbagai
perbedaan itu, filsafat Timur dan Barat sesungguhnya dapat bekerja sama dan
saling melengkapi. Sebagaimana dinyatakan oleh Sutrisno, filsafat Timur dapat
belajar dari rasionalisme dan positivisme Barat. Filsafat Barat pun dapat
belajar dari intuisi Timur mengenai kesatuan dalam kosmos dan mengenai
identitas mikrokosmos dan makrokosmos. Falsafat Barat mungkin lebih duniawi,
filsafat Timur mungkin terlalu mistik.
Tuntutan untuk mengadakan kerja sama
di atas semakin urgensi saat ini, mengingat proses globalisasi sedang dan akan
terus berlangsung sebagai akibat kemajuan teknologi komunikasi. Masalah
negara-negara di dunia Timur akan dirasakan pula sebagai masalah bagi
negara-negara lain di dunia Barat, demikian pula sebaliknya. Problem-problem
ekologi dan kemanusiaan, misalnya, sejak lama menjadi perhatian baik filsafat
Timur maupun Barat, dan masalah-masalah itu sampai saat ini tetap menuntut
pemecahannya bersama-sama.
[1] Priyono,
H., Nilai Budaya Barat dan Timur Menuju Tata Hubungan Baru, dalam Tim Redaksi
Driyarkara, Jelajah Hakikat Pemikiran Timur, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,
1993), hlm. 4-14.
[2] Ibid.,
hlm. 204
[3]
Duyvendak, J.J.L., “Filsafat Tiongkok Klasik (kuno)”, dalam Eerste Nederlandse
Systematichte Ingerichte Encylopaedie, Jilid I (terjemahan Poedjioetomo),
(Yogyakarta: tanpa penerbit (tidak dipublikasikan), 1956) hlm. 2.
[4]
Sutrisno, M,. “Kata Pengantar”, dalam: Tim Redaksi Driyarkara, Jelajah Hakikat
Pemikiran Timur, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993), hlm. X.
[5] Ibid.,
hlm. xi-xii.
Minggu, 27 September 2015
Definisi Cinta
"Laisal hubbu a'n nabqo daaiman bi jaanibi man nuhibbu, wa laakinnal hubbu an nabqo fie qolbi man nuhib."
Cinta bukan berarti kita selalu berada di sisi orang yang kita cintai... Tapi cinta itu adalah tatkala kita berada dalam hati orang yang kita cintai.
Jumat, 25 September 2015
Aswaja
NU, dgn sendi aswaja, menyelaraskan nilai2 tasamuh (toleransi), tawazun (keberimbangan), tawassuth (moderatisme) dan ‘adalah (keadilan)
Persatuan dalam Islam
ukhuwwah Islamiyyah (seagama), ukhuwwah basyariyyah (persaudaraan dlm kemanusiaan) & ukhuwwah wathaniyyah (persaudaraan kebangsaan)
Kamis, 24 September 2015
Ki Hadjar Dewantara tentang Pendidikan
Pendidikan menumbuhkan semangat nasionalisme dan pratiotisme guna memperjuangkan kepentingan bangsa di atas kepentingan-kepentingan politik yang kerdil dan sempit yang kemudian hanya mengorbankan kepentingan bangsanya. Pendidikan itu berupaya sekuat tenaga menanamkan rasa persaudaraan, persamaan, kesetiakawanan, dan kebersamaan hidup senasib seperjuangan. membela bangsa dalam segala bentuk penindasan. baik secara fisik maupun psikis. tidak peduli apakah penindasan tersebut berasal dari luar negeri maupun dari dalam negeri sendiri. Pendidikan pun bermuara guna melahirkan rasa mencintai segala aset bangsa agar dijaga dengan segala cara. agar dapat dimanfaatkan bagi kebesaran dan kemakmuran bangsa.
Senin, 21 September 2015
Pramoediya Ananta Toer pada era Gus Dur
Sebelum
Gus Dur menjadi presiden, tepatnya ketika jabatan presiden masih di tangan
Habibie, Pram tidaklah simpatik. Menurutnya dalam sebuah wawancara dengan media
massa, ia menilai habibie sebagai pemimpin atau kepala negara belumlah teruji oleh
sejarah, untuk tidak mengatakan Habibie belum memiliki wawasan kenegaraan
apalagi wawasan kebangsaan dan keindonesiaan dan nasionalisme.
Sampai kemudian
pada era Gus Dur, pemerintah mencoba menjembatani dialog rekonsiliasi dengan
Pram, dengan mengundang Pram ke istana untuk membicarakan konsep negara
Indonesia sebagai negara maritim. Gus Dur mengakui bahwa Pram memiliki konsep
kuat soal maritim yang tercermin dalam beberapa karyanya seperti Arok Dedes. Pram
dan Gus Dur memiliki kesamaan akan proses pendangkalan kekuatan kemaritiman
yang sebenarnya ada, tapi di tenggelamkan sejak pemerintahan Soeharto. Dari pertemuan
inilah kemudian pada pemerintahan Gus Dur di bentuk sebuah kementrian yang
mengurusi kekuatan dan kekayaan laun.
Lebih jauh
dari perbincangan ke perbncangan selanjutnya antara Pram denga Gus Dur, muncul
wacana pencabutan tap MPRS No.25 tentang pelanggaran organisasi, ideologi PKI,
pengajaran dan penyebaran atau diskusi tentang komunisme di tanah air
Indonesia. Dari wacana tersebutlah, Gus Dur mendapatkan tantangan dari kalangan
Islam garis keras dan kebanyakan kalangan militer. Perdebatan berlarut-larut,
menimbulkan polemik panjang, kontroversi tak berkesudahan, dan akhirnya Gus Dur
mengucapkan ia hanya mengajak kita mulai terbuka, maju, dan berdamai dengan
sejarah, jika wacana tersebut kurang berkenan, Gus Dur tidak akan
memperpanjangnya.
Berkaitan
dengan Pram, Gus Dur di hadapan publik sebagai kepala pemerintahan, atas nama
ansor-NU yang bagaimanapun sedikit banyak, sengaja atau dimanfaatkan ikut serta
dalam peristiwa pembantaian terhadap orang-orang PKI atau yang diduga PKI meminta
maaf kepada Pram. Namun, Pram menolak permintaan maaf Gus Dur. Hal ini
disebabkan, menurut Pram, Gus Dur cenderung takut pada Soeharto sehingga
beberapa kali sowan kepada Soeharto. Bagi Pram rekonsiliasi harus dipakai
dengan perspektif orang yang teraniaya, bukan yang menganiaya. Jadi, sulit
dibayangkan jika inisiatif dan pelaksanaan rekonsiliasi dilakukan oleh yang
menganiaya. Istilahnya Pram dengan keras mengatakan “Gampang amat minta maaf”.
Pernyataan
maaf Gus Dur atas perilaku yang pernah terjadi pada kelompok tradisinya di NU
menjadi kontroversi di lingkungannya sendiri, yang terang-terangan menolak
permintaan maaf tersebut, dan juga mendapat tantangan dari kalangan di luar
tradisinya juga. Sudah begitu, permintaan maaf itu di tolak pula oleh Pram. Hal
ini menjadi kontroversi dari kekerasan hati Pram. Sepertinya kedua tokoh ini
bersaing ketat soal polemik dan kontroversi.
Menurut
Pram, Gus Dur bukanlah tipe seorang pemimpin yang bisa diharapkan. Baginya, Gus
Dur memang demokratis, tetapi hanya bisa
membuat humor dan guyonan. Gus Dur tida tegas
terhadap kekuatan Orde Baru, bahkan beberapa kali menunjukan sikap
melakukan rekonsiliasi dengan mantan pimpinan Orde Baru sendiri, yaitu Soeharto.
Minggu, 20 September 2015
Ide sederhana (diary)
Yogyakarta
adalah satu-satunya daerah di Indonesia dengan predikat Istemewa. Dan tentu
saja predikat keistimewaan itu bisa di lihat dari daerah ataupun orangnya atau
masyarakatnya seperti yang ada dalam liriknya lagu “Jogja Istimewa” yang di
ciptakan oleh Jogja HipHop Foundation yaitu “Jogja jogja, jogja istimewa,
istimewa negerinya istimewa orangnya. Dan salah satu dari keistimewaan kota
Yogyakarta adalah dengan julukannya sebagai Kota Pelajar. Dan jika berbicara
tentang pelajar itu tidak bisa dilepaskan dengan membaca. Dan ketika
membicarakan tentang membaca yang tersirat dalam benak adalah perpustakan.
Di
dalam tulisan ini penulis akan menceritakan tentang sebuah ide yang muncul
secara spontan di dalam perpustakan Kota Yogyakarta yang berada di Jl. Suroto
No.9 Kotabaru, Yogyakarta. Hari itu tepatnya hari minggu 20 September 2015. Ya
perpustakaan kota yang letaknya tak jauh dari toko buku Gramedia ini memang
buka seminggu full. Dan untuk fasilitas sendiri sudah termasuk paling baik.
Bukan hanya sekedar menyediakan bermacam-macam buku, tapi juga ada fasilitas
free Wifi, Kantin, ruangan baca khusus anak-anak dll.
Tepatnya
sabtu malam tanggal 19 september 2015, penulis mendapat telvon dari pihak
perpustakaan untuk bisa hadir dalam diskusi yang akan di adakan oleh pihak
perpustakaan kota. Pada awalnya saya sendiri heran kenapa saya da suruh datang
mengikuti diskusi, sementara saya sendiri tidak tahu diskusi apa yang akan
dilakukan pihak perpustakaan sehingga harus meminta saya untuk hadir. Dan untuk
menjawab keheranan saya itu, minggu pagi tepat pukul 08.00 saya sampai di
perpustakaan sesuai dengan apa yang di minta oleh pihak perpus. Di pintu masuk
perpustakaan saya menemui mas adit bagian receptionis. Belum juga saya
menanyakan tentang kenapa pihak perpustakaan memanggil saya , mas adit langsung
berkata “Sudah di tunggu di ruang diskusi mas”. Dengan wajah masih kebingungan
saya langsung menuju ke ruang diskusi. Sampai di dalam ternyata di situ sudah
di tunggu oleh beberapa staf dari pihak perpustakaan. Dan setelah di
persilahkan duduk, Pak edi staf arsip perpustakaan kota yogyakarta yang sedang
memimpin rapat diskusi langsung berkata. “Selamat datang mas arif, begini mas
arif, kami sengaja melakukan diskusi disini dan secara khusus mengundang mas
arif datang karena ini sebagai bentuk pertanggung jawaban pihak perpustakaan
pihak perpustakaan atas kritik dan saran yang pernah di tulis mas arif kepada
pihak perpustakaan yaitu dimana mas arif meminta di buat tempat ruangan khusus
untuk diskusi, belajar kelompok, seminar yang disitu di sediakan proyektor. Dan
disitu mas arif juga memberikan saran agar menggunakan salah satu sudut di
lantai 2 yang terlihat kurang bermanfaat untuk di jadikan tempat itu.
Mendapat
penjelasan panjang lebar dari Pak Edi akhirnya saya baru sadar ternyata ini
bentuk apresiasi dari pihak perpustakaan yogyakarta atas kritik dan saran yang
pernah saya tulis dan saya masukan di dalam kotak kritik dan saran yang ada di
pintu masuk perpustakaan. Walaupun saya masih tidak menyangka kalau kritik dan
saran yang pernah saya tulis itu bakal di apresiasi seperti ini, karena waktu
itu saya sendiri menulis kritik dan saran itu dalam keadaan masih marah karena
saya masih membuat tugas di salah satu meja di lantai 1 ,tepat di sebelah saya
ada sekelompok anak berseragam SMA yang nampaknya sedang kerja kelompok tapi
dengan suara yang keras yang membuat orang-orang disekitarnya menjadi
terganggu, sampai akhirnya saya harus pindah ke lantai 2. Dan saya melihat di
satu sudut di lantai 2 terlihat sangat kurang terpakai karena ruangannya
sendiri cukup luas tapi hanya di pakai untuk ruangan baca anak-anak dan
beberapa meja untuk membaca. Dari situlah terbesit untuk memberi kritik dan
saran itu.
Kembali
ke dalam ruangan diskusi, Mbak mega staf bendahara perpustakaan berkata: Begini
mas arif, sebenarnya kritik dan saran mas arif itu sudah di diskusikan oleh
pihak perpustakaan sejak lama, dan alhamdulilah proposal dari pihak
perpustakaan pun sudah selesai, nah disini kami dari pihak perpustakaan
mengundang mas arif sebagai orang yang sudah memberikan saran ini untuk
memberikan nama untuk ruangan ini, dari pihak perpustakaan sendiri memberikan 3
pilihan yaitu:
1.
Ruang Diskusi pelajar
2.
Ruang Diskusi Perpustakaan
3.
Ruang Diskusi
Nah sebagai bentuk apresiasi kami
dari pihak perpustakaan memberikan hak preogatif untuk kepada mas arif untuk
memilih dari ketika nama tersebut (lanjut mba mega)
Di
ruangan itu saya belum bicara sepatah kata, tapi entah kenapa saya sudah di
berikan hak preogatif seperti itu. menarik nafas dalam-dalam saya mencoba
menjawab pertanyaan itu.
“Sebelumnya
saya mengucapkan terimakasih atas apresiasinya, nah untuk pertanyaan itu
sendiri semisal saya memberikan nama lain kira-kira boleh tidak ya? (saya
ajukan pertanyaan sambil menatap wajah mba mega)
Silahkan
boleh mas (saut pak edi)
Owh,
yaudah monggo mas (sambung mba mega)
“semisal
ruangan itu diberi nama Raisa gimana? “
Belum
juga saya menjelaskan tapi ruangan diskusi yang sebelumnya berjalan tenang
tiba-tiba langsung riuh dengan tawa. Saya sendiri jadi agak canggung, sampai
akhirnya saya kembali melanjutkan pembicaraan.
“begini
Pak/Bu , dalam 3 nama yang di ajukan tadi kurang enak di dengar, pertama Ruang
Diskusi Pelajar, kata pelajar seolah-olah hanya di tujukan untuk pelajar saja.
Kedua, Ruang Diskusi Perpustakaan, di situ kata perpustakaan terlihat umum.
Ketiga, Ruang Diskusi, itu malah lebih monoton. Jadi saya mengajukan agar
ruangan itu diberi nama RAISA yang artinya Ruang Diskusi Bersama.
Lagi-lagi
ruang diskusi yang sudah tenang langsung riuh dengan tawa riya. Dan sampai
akhirnya baik Pak Edi maupun Mbak mega serta semua staf setuju dengan ide yang
saya berikan itu.
Walaupun namanya RAISA terdengar
aneh karena saya sendiri mendapat ide itu setelah teringat dengan sosok Raisa
seorang penyanyi Jazz yang fotonya saya jadikan foto sampul saat diskusi sedang
berjalan.
Begitulah cerita di balik
terbentuknya ruang RAISA yang sampai sekarang terus di pakai oleh para
pengunjung perpustakaan Kota Yogyakarta, bahkan hampir setiap hari ruangan itu
hampir tidak ada jeda untuk di pakai baik oleh pelajar, mahasiswa, dan
pengunjung dari organisasi umum.
Si Tuli
Di
Khurasan ada seorang ulama besar bernama Khatim bin Alwin. Muridnya banyak,
pengaruhnya luas, dan ilmunya tinggi. Tetapi, di tengah masyarakat ia
memperoleh julukan Al-Asham atau si Tuli. Anehnya julukan yang biasanya untuk
merendahkan itu buat Imam Khatim bin Alwan justru merupakan gelar kehormatan
yang mengabadikan akhlak terpujinya sehingga ia dihargai oleh umat manusia
sepanjan masa.
Gelar
buruk, namun terhormat itu didapatkan oleh Imam Khatim bin Alwan ketika pada
suatu ketika seorang gadis cantik keturunan bangsawan datang ketempat ia biasa
memberikan pelajaran yang juga merupakan tempat penyimpanan ratusan kitab-kitab
karyanya. Gadis cantik itu bermaksud menanyakan suatu masalah yang dibutuhkan
jawabannya dengan segera.
Ketika
sudah dipersilahkan masuk, tiba-tiba gadis itu terlepas kentutnya, walaupun
pelan tapi bunyinya terdengar nyaring. Imam Khatim terkejut. Baru kali ini ia
mendengar orang kentut di mukanya, apalagi seorang gadis.
Si
gadis cantik, begitu mendengar kentutnya sendiri, betapapun pelannya, mendadak
merah padam wajahnya lantaran malu sekali. Apalagi yang ada di hadapannya
adalah seorang ulama besar yang di hormati oleh segala lapisan masyarakat,
termasuk raja dan pembesar-pembesar kerajaan.
Namun,
alangkah leganya gadis cantik itu tatkala Imam Khatim bertanya dengan suara
sangat keras. “Coba ulangi, apa keperluanmu?”
Dengan
lantang gadis cantik itu menanyakan suatu masalah yang sedang di alaminya. Sudah
keras sekali suara gadis itu, tapi Imam Khatim pura-pura tidak mendengar.
Padahal bunyi jarum jam pun telinganya masih dapat mendengar. Tetapi Imam
Khatim masih juga berteriak keras, “Lebih keras lagi suaramu. Aku tidak
mendengar. Apa kamu tidak tahu, aku ini sejak seminggu yang lalu menjadi budek,
pekak, tuli akibat demam panas?.
Mendengar
pengakuan Imam Khatim tersebut. Si gadis cantik makin bersinar wajahnya. Sebab
ia berpikir, kalau suaranya yang sudah keras saja Imam Khatim tidak bisa
mendengar apalagi bunyi kentutnya yang halus, pasti Imam Khatim tidak
mendengarnya.
Langganan:
Postingan (Atom)





