Jumat, 11 Maret 2016

Tentang YAYASAN INFAK BUKU




Yayasan ini saya dirikan pada akhir 2015. tepatnya pada bulan september.
Yayasan ini memberi tempat bagi siapapun-baik mahasiswa, masyarakat umum atau pihak mana pun- untuk menyumbangkan buku-buku-baik bagus maupun baru-yang masih layak baca.
Dan kemudian Yayasan Infak Buku akan mensortirnya dan membagikannya lagi ke berbagai pihak. Baik itu perpustakaan desa, komunitas, ataupun TBM yang memang membutuhkan bantuan buku.

Untuk info lebih lanjut tentang YAYASAN INFAK BUKU. silahkan bisa menghubungi
SMS 08985149402
Telfon 085729002826
Facebook Yayasan Infak Buku
Fanspage Yayasan Infak Buku
Twitter @YIB_Yogyakarta
Email yayasaninfakbuku@gmail.com

Minggu, 13 Desember 2015

Pesan Ibnu Arabi tentang Dunia



            Dunia ini tidaklah buruk-sebaliknya, ia merupakan ladang akhirat. Apa yang kamu tanam disini akan kamu panen di sana. Dunia ini adalah jalan menuju berkah abadi dan karena ia baik-layak di damba dan di puji. Yang buruk adalah memperlakukan dunia sehingga kamu menjadi buta pada kebenaran dan di kuasai sepenuhnya oleh hasrat, keinginan, dan ambisimu kepadanya. Orang beriman bukan menghindari kenikmatan dunia, melainkan tidak meletakkan nilai yang tinggi kepadanya.”

Kisah Syaikh Abdul Qadir Jailani ngobrol dengan “Setan”


            Alkisah, Ratusan tahun silam, Syekh Abdul Qadir Jailani merasa ada yang membangunkannya setiap kali menjelang subuh. Dengan begitu, beliau tak pernah terlambat dalam menunaikan shalat fajar. Namun, hatinya penasaran siapa gerangan yang berbaik hati selalu membangunkan dirinya tanpa bosan. Beliau memohon kepada Allah agar dibukakan rahasia kepadanya.
            Menjelang suatu fajar, ternyata beliau tahu bahwa yang membangunkannya adalah setan. “Kenapa kau melakukan itu?” tanya Syekh penasaran. “Ya, aku membangunkanmu agar kau tak ketinggalan waktu sembahyangmu,”. Jawab setan itu. “Tumben kau baik sekali kali ini.”
“Bukan, aku melakukan semua ini dengan terus menerus karena aku tahu kalau kau sampai lalai memenuhi kewajiban-kewajibanmu, kau akan merasakan kesedihan yang amat sangat, dan selama hari berikutnya kau akan berdoa jauh lebih khusuk lagi, memohon ampun dengan setulus-tulusnya, lalu kian memperbanyak shalat sunnah dan menambah banyak kebajikan demi menebus kelalaianmu.”

            

Rabu, 21 Oktober 2015

Asas Masyarakat Islam yang telah diletakkan oleh Rasulullah

, antara lain:
1.       Al-Ikba (Persaudaraan)
2.       Al-musawah (persamaan rasial manusia)
3.       Al-tasamuh (toleransi beragama)
4.       Al-tasyawur (musyawarah)
5.       Al-ta’awun (tolong-menolong dalam kebaikan)

6.       Al-adalah (keadilan untuk semua)

Rabu, 30 September 2015

Ciri-ciri berfikir secara filsafat


                Berfilsafat adalah berfikir. Hal ini tidak berarti bahwa berpikir dan berfilsafat, karena berfilsafat itu berfikir dengan ciri-ciri tertentu. Ada beberapa ciri berfikir secara kefilsafatan, yatu :
1.       Berfikir secara radikal. Radikal berasal dan kata Yunani, yaitu radix yang berarti “akar”. Berfikir secara radikal adalah berfikir sampai ke akar-akarnya. Berfikir sampai ke hakikat, esensi, atau sampai ke substansi yang dipikirkan. Manusia yang berfilsafat tidak puas hanya memperoleh pengetahuan lewat indra yang selalu berubah dan tidak tetap. Manusia yang berfilsafat dengan akalnya berusaha untuk dapat menangkap pengetahuan hakiki, yaitu pengetahuan yang mendasari segala pengetahuan indrawi.
2.       Berfikir secara universal (umum). Berfikir secara universal adalah berfikir tentang hal-hal serta proses-proses yang bersifat umum. Filsafat bersangkutan dengan pengalaman umum dan umat manusia (common experience of mankind). Dengan jalan penjajakan yang radikal, filsafat berusaha untuk sampai pada kesimpulan-kesimpulan universal. Bagaimana cara atau jalan yang ditempuh untuk mencapai sasaran pemikirannya dapat berbeda-beda. Akan tetapi, yang dituju adalah keumuman yang diperoleh dan hal-hal khusus yang ada dalam kenyataan.
3.       Berfikir secara konseptual. Yang konsep disini adalah hasil generalisasi dan abstraksi dan pengalaman tentang hal-hal serta proses-proses individual. Berfilsafat tidak berfikir tentang manusia tertentu atau manusia khusus, tetapi berikir tentang manusia secara umum. Dengan ciri yang konseptual ini, berfikir secara berfilsafat melampaui batas pengalaman hidup sehari-hari.
4.       Berfikir secara koheren dan konsisten. Koheren artinya sesuai dengan kaidah-kaidah berfikir (logis). Konsisten artinya tidak mengandung kontradiksi. Baik koheren maupun konsisten, keduanya dapat diterjemahkan dalam bahasa indonesia, yaitu runtut. Adapun yang dimaksud runtut adalah bagan konseptual yang disusun tidak terdiri atas pendapat-pendapat yang saling berkontradiksi di dalamnya.
5.       Berfikir secara sistematik. Sistematik berasal dari kata sistem yang artinya kebulatan dan sejumlah unsur yang saling berhubungan menurut tata pengaturan untuk mencapai sesuatu maksud atau menunaikan sesuatu peranan tertentu. Dalam mengemukakan jawaban terhadap sesuatu masalah, digunakan pendapat atau argumen yang merupakan uraian kefilsafatan yang saling berhubungan secara teratur dan terkandung adanya maksud atau tujuan tertentu.
6.       Berfikir secara komperhensif. Komperhensif adalah mencakup secara menyeluruh. Berfikir secara kefilsafatan berusaha untuk menjelaskan fenomena yang ada di alam semesta secara kesuluruhan sebagai suatu sistem.
7.       Berfikir secara bebas. Sampai batas-batas yang luas, setiap filsafat boleh dikatakan merupakan sesuatu hasil dari pemikiran yang bebas. Bebas dari prasangka-prasangka sosial, historis, kultural, atau religius. Sikap-sikap demikian ini banyak dilakukan oleh filsuf-filsuf dari segala zaman. Semisal Socrates, ia memilih meminum racun dan menatap maut dari pada harus mengorbankan kebebasan berfikir menurut keyakinannya, walaupun sebenarnya banyak dari murid-muridnya yang sanggup untuk melepaskannya dari hukuman mati itu, namun ia justru menolaknya. Kemudian Spinoza karena khawatir kehilangan kebebasan berfikir bebas, ia menolak pengangkatannya sebagai guru besar filsafat pada Universitas Heidelberg.
8.       Berfikir dengan pemikiran yang bertanggung jawab. Pertanggung jawaban yang pertama adalah terhadap hati nuraninya. Di dini tampak hubungan antara kebebasan berfikir dalam filsafat dengan etika yang melandasinya.

Hal 1-3

PERBANDINGAN ANTARA FILSAFAT TIMUR DAN FILSAFAT BARAT



            Priyono[1]  menyebutkan empat bidang besar yang menjadi titik pembeda antara filsafat Timur dan Barat, yang secara khas dihayati oleh masing-masing budaya, yaitu: (1) Pengetahuan, (2) sikap terhadap alam, (3) ideal dan cita-cita hidup, dan (4) satatus persona.
            Dalam filsafat Barat, rasio (akal budi) memegang peranan utama. Hal ini tergambar antara lain dari ungkapan Aristoteles, bahwa rasio merupakan mahkota kodrat manusia. Dengan rasio tersebut manusia di dalam Barat mampu mengembangkan ilmu dan membebaskan manusia dari mitos-mitos. Pada bagian lain, filsafat Timur lebih menekankan unsur intuisi (cahaya ilahi) jika dalam budaya Barat, belajar misalnya ditujukan untuk mampu menjawab tantangan alam, dalam dunia Timur justru sebaliknya, belajar adalah untuk mendidik manusia menjadi bijaksana. Dengan kebijaksanaan manusia akan menghayati hidup lebih baik dan sempurna karena hidup merupakan seni yang sulit dan membutuhkan refleksi sepanjang hidup, sebuah sikap yang tidak mengandalkan akal budi sebagai kekuatan utama.
            Tentang sikap terhadap alam, tampak bahwa filsafat Barat bersifat eksploitatif (menguras atau mengeruk). Dengan ilmu dan teknologi yang dikuasainya, alam ditaklukan dan dikuras untuk kepentingan manusia. Hal ini berbeda dengan filsafat Timur yang memandang bahwa alam pun mempunyai jiwa, bahwa manusia adalah bagian dari alam dan antara manusia dan alam berasal dari zat yang satu. Terutama dalam hal ini India dan Cina amat menekankan unsur harmoni dengan alam tersebut.
            Menurut Priyono,[2] ideal atau cita-cita hidup masyarakat Barat adalah to do is mpre important than to be yang artinya, “Bertindak adalah lebih penting daripada berada”. Sikap untuk mengisi hidup selalu bertindak dan bekerja setinggi mungkin. Sebaliknya, manusia Timur lahir dan hidup dalam budaya yang menyebut diri to be is more important than to do yang artinya, “Ada dan hadir lebih penting daripada bertindak”. Kensekuensi dari ideal hidup demikian menyebabkan manusia Timur cenderung pasif, konvensional, dan dengan sendirinya tidak menyukai konflik. Padahal, melalui konflik itulah manusia Barat mengadakan perbaikan-perbaikan dalam rangka menjawab persoalan-persoalan manusia. Jadi, tatkala manusia Barat berdebat tentang cara memperoleh materi, manusia Timur justru di ajarkan untuk hidup tenang bersahaja.
            Selanjutnya, mengenai status persona, filsafat Barat memandang manusia sebagai individu yang berhadapan dengan masyarakat. Itulah sebabnya dalam dunia Barat (khususnya dalam lapangan hukum), hak-hak individu lebih dikedepankan dari pada hak-hak kolektif. Kebalikannya, dalam filsafat Timur, manusia individu justru di pandang sebagai bagian dari masyarakat itu. dapat dikatakan hal ini sinkron dengan cara pandang filsafat Timur terhadap hubungan manusia dengan alam.
            Sementara itu, filsafat (negara-negara) Islam apabila mengacu sepenuhnya kepada agama Islam, dapat dikatakan telah mulai menjembatani corak filsafat Barat dan Timur ini. Walaupun demikian, dalam kenyataannya, filsafat (negara-negara) Islam itu telah berinteraksi dengan pandangan hidup masyarakat setempat, sehingga unsur-unsur ketimuran sebagaimana tampak pada filsafat India dan Cina ikut mewarnai filsafat (negar-negara) Islam ini. Dalam sejarah bahkan terbukti bahwa filsafat ini mulai kehilangan pengaruhnya di Eropa seiring dengan direbutnya kembali kawasan Maghribi dari tangan orang-orang Islam. Juga ada wilayah, yang semula berada dalam satu pemerintahan di kawasan Masyriqi, mulai melepaskan diri. Persia (Iran), misalnya kendati masih beragama Islam, menyatakan merdeka dan lepas dari pemerintah Arab.
            Seiring dengan penyebaran agama Islam, pengaruh filsafat ini juga menyebar ke kawasan Afrika dan Asia lainnya, termasuk di Indonesia. Di Asia Selatan dan Tenggara, agama Islam masuk ke dalam sistem sosial yang terutama telah banyak dipengaruhi oleh Buddhisme dan Hinduisme yang telah dianut dari dulu selama berabad-abad. Corak filsafat yang di bawa oleh agama Islam ini kemudian bercampur dengan Buddhisme dan Hinduisme, dan menjadi pandangan hidup bagi masyarakat luas.
            Secara ekstrim, perbandingan antara filsafat Timur dan Barat dapat pula di amati dari pembedaan yang dianut oleh Eerste Nederlandse Sustematisch Ingerichte Encyclopaedie.[3]
            Dalam banyak hal, misalnya, filsafat Barat juga bersifat asli (natuurlijk), konservatif, kolektivitas, dan sebagainya. Perbedaan tersebut dapat dijadikan masukan, tetapi bukan pegangan mutlak. Manusia di manapun ia berada, tidak mungkin dapat hidup dalam satu kutub yang ekstrem demikian. Filsafat Indonesia yang notabene termasuk filsafat Timur juga tidak ingin berada pada salah satu kutub yang terpisah demikian.
            Dalam filosofi bangsa-bangsa Timur, seperti India, Cina, dan Indonesia, selalu diajarkan, bahwa antara mikrokosmos dan makrokosmos senantiasa hidup harmonis: selaras, serasi dan seimbang. Filosofi demikian dalam satu sisi boleh jadi merupakan penyebab keterbelakangan bangsa-bangsa Timur (dengan beberapa pengecualian) dari bangsa-bangsa Barat, tetapi di sisi lain filosofi tersebut justru merupakan kemenagan bangsa-bangsa Timur itu. kemajuan teknologi lebih dahulu di nikmati oleh bangsa-bangsa Barat karena mereka secara gencar berani mengeksploitasi alam, sekalipun akibatnya kerusakan lingkungan hidup pun lebih banyak terjadi di belahan dunia Barat.
            Dengan atribut-atribut demikian, tidak mengherankan apabila filsafat Barat berhasil mencapai kematangannya dengan melahirkan ilmu-ilmu positif dan teknologi sampai akhirnya masyarakat Barat sendiri mempertanyakan kemajuan-kemajuan itu, seperti terbukti dengan munculnya problem ekologi, alienasi, instrumentalisasi akal budi, dan segmentasi bidang kehidupan. Problem-problem ini tidak pernah dipermasalahkan oleh filsafat Timur. Dalam filsafat Timur, manusia menyatu dengan realitas, dan dari sana manusia merefleksikan inti dirinya dan inti realitasnya. Karena kesatuan begitu ditekankan, dengan sendirinya masalah-masalah yang ada dalam pemikiran Barat (ekologi, elienasi, dan lain-lain) tidak dipersoalkan oleh filsafat Timur.[4]
            Dengan latar belakang seperti itu, tidak berarti filsafat Timur lebih terbelakang dalam segala hal dibandingan dengan filsafat Barat. Seperti dinyatakan oleh Sutrisno,[5] filsafat Timur (khususnya India) mengandung ciri sentral religiositas yang mendalam. Artinya, filsafat selalu dikaitkan dengan persoalan keselamatan manusia. Keselamatan itu di capai dengan penguasaan diri dan akhirnya mencapai penemuan diri. Ciri kedua, filsafat Timur tidak membagi-bagi mana yang rasional, tetapi menekankan segi praktis, dalam arti bahwa filsafat senantiasa dikaitkan dengan tujuan hidup manusia sendiri: mengatasi derita, mengatasi duka. Lebih dari itu filsafat Timur tidak bisa menjawab persoalan-persoalan teknologis yang ada dalam masyarakat modern dewasa ini.
            Dengan demikian, menurut Sutrisno, pertanyaan tentang bagaimana filsafat Timur menjawab tantangan-tantangan masyarakat modern sebenarnya kurang tepat diajukan, mengingat filsafat Timur itu mau menyajikan falsafah hidup. Falsafah hidup itu ditawarkan kepada mereka yang mau. Di sinilah segi menarik filsafat Timur itu, yaitu filsafat Timur tidak bersifat memaksa. Filsafat Timur ternyata mampu menawarkan suatu falsafah hidup dengan seluruh kebebasan yang diberikannya.
            Sekalipun terdapat berbagai perbedaan itu, filsafat Timur dan Barat sesungguhnya dapat bekerja sama dan saling melengkapi. Sebagaimana dinyatakan oleh Sutrisno, filsafat Timur dapat belajar dari rasionalisme dan positivisme Barat. Filsafat Barat pun dapat belajar dari intuisi Timur mengenai kesatuan dalam kosmos dan mengenai identitas mikrokosmos dan makrokosmos. Falsafat Barat mungkin lebih duniawi, filsafat Timur mungkin terlalu mistik.
            Tuntutan untuk mengadakan kerja sama di atas semakin urgensi saat ini, mengingat proses globalisasi sedang dan akan terus berlangsung sebagai akibat kemajuan teknologi komunikasi. Masalah negara-negara di dunia Timur akan dirasakan pula sebagai masalah bagi negara-negara lain di dunia Barat, demikian pula sebaliknya. Problem-problem ekologi dan kemanusiaan, misalnya, sejak lama menjadi perhatian baik filsafat Timur maupun Barat, dan masalah-masalah itu sampai saat ini tetap menuntut pemecahannya bersama-sama.




[1] Priyono, H., Nilai Budaya Barat dan Timur Menuju Tata Hubungan Baru, dalam Tim Redaksi Driyarkara, Jelajah Hakikat Pemikiran Timur, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993), hlm. 4-14.
[2] Ibid., hlm. 204
[3] Duyvendak, J.J.L., “Filsafat Tiongkok Klasik (kuno)”, dalam Eerste Nederlandse Systematichte Ingerichte Encylopaedie, Jilid I (terjemahan Poedjioetomo), (Yogyakarta: tanpa penerbit (tidak dipublikasikan), 1956) hlm. 2.
[4] Sutrisno, M,. “Kata Pengantar”, dalam: Tim Redaksi Driyarkara, Jelajah Hakikat Pemikiran Timur, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993), hlm. X.
[5] Ibid., hlm. xi-xii.

Minggu, 27 September 2015

Definisi Cinta

"Laisal hubbu a'n nabqo daaiman bi jaanibi man nuhibbu, wa laakinnal hubbu an nabqo fie qolbi man nuhib."
Cinta bukan berarti kita selalu berada di sisi orang yang kita cintai... Tapi cinta itu adalah tatkala kita berada dalam hati orang yang kita cintai.

Nasehat Gus Dur

"Jangan hanya berhenti mencintai agama, tetapi agamakanlah cinta." ~

Kesalahan saat membaca Surat Al fatihah/dalam shalat ..Iyyaaka na'budu Waiyyaaka nasta'iin..


Jumat, 25 September 2015

Aswaja

NU, dgn sendi aswaja, menyelaraskan nilai2 tasamuh (toleransi), tawazun (keberimbangan), tawassuth (moderatisme) dan ‘adalah (keadilan)

Persatuan dalam Islam

ukhuwwah Islamiyyah (seagama), ukhuwwah basyariyyah (persaudaraan dlm kemanusiaan) & ukhuwwah wathaniyyah (persaudaraan kebangsaan)

Kamis, 24 September 2015

Ki Hadjar Dewantara tentang Pendidikan

Pendidikan menumbuhkan semangat nasionalisme dan pratiotisme guna memperjuangkan kepentingan bangsa di atas kepentingan-kepentingan politik yang kerdil dan sempit yang kemudian hanya mengorbankan kepentingan bangsanya. Pendidikan itu berupaya sekuat tenaga menanamkan rasa persaudaraan, persamaan, kesetiakawanan, dan kebersamaan hidup senasib seperjuangan. membela bangsa dalam segala bentuk penindasan. baik secara fisik maupun psikis. tidak peduli apakah penindasan tersebut berasal dari luar negeri maupun dari dalam negeri sendiri. Pendidikan pun bermuara guna melahirkan rasa mencintai segala aset bangsa agar dijaga dengan segala cara. agar dapat dimanfaatkan bagi kebesaran dan kemakmuran bangsa.

Senin, 21 September 2015

Pramoediya Ananta Toer pada era Gus Dur


                Sebelum Gus Dur menjadi presiden, tepatnya ketika jabatan presiden masih di tangan Habibie, Pram tidaklah simpatik. Menurutnya dalam sebuah wawancara dengan media massa, ia menilai habibie sebagai pemimpin atau kepala negara belumlah teruji oleh sejarah, untuk tidak mengatakan Habibie belum memiliki wawasan kenegaraan apalagi wawasan kebangsaan dan keindonesiaan dan nasionalisme.
                Sampai kemudian pada era Gus Dur, pemerintah mencoba menjembatani dialog rekonsiliasi dengan Pram, dengan mengundang Pram ke istana untuk membicarakan konsep negara Indonesia sebagai negara maritim. Gus Dur mengakui bahwa Pram memiliki konsep kuat soal maritim yang tercermin dalam beberapa karyanya seperti Arok Dedes. Pram dan Gus Dur memiliki kesamaan akan proses pendangkalan kekuatan kemaritiman yang sebenarnya ada, tapi di tenggelamkan sejak pemerintahan Soeharto. Dari pertemuan inilah kemudian pada pemerintahan Gus Dur di bentuk sebuah kementrian yang mengurusi kekuatan dan kekayaan laun.
                Lebih jauh dari perbincangan ke perbncangan selanjutnya antara Pram denga Gus Dur, muncul wacana pencabutan tap MPRS No.25 tentang pelanggaran organisasi, ideologi PKI, pengajaran dan penyebaran atau diskusi tentang komunisme di tanah air Indonesia. Dari wacana tersebutlah, Gus Dur mendapatkan tantangan dari kalangan Islam garis keras dan kebanyakan kalangan militer. Perdebatan berlarut-larut, menimbulkan polemik panjang, kontroversi tak berkesudahan, dan akhirnya Gus Dur mengucapkan ia hanya mengajak kita mulai terbuka, maju, dan berdamai dengan sejarah, jika wacana tersebut kurang berkenan, Gus Dur tidak akan memperpanjangnya.
                Berkaitan dengan Pram, Gus Dur di hadapan publik sebagai kepala pemerintahan, atas nama ansor-NU yang bagaimanapun sedikit banyak, sengaja atau dimanfaatkan ikut serta dalam peristiwa pembantaian terhadap orang-orang PKI atau yang diduga PKI meminta maaf kepada Pram. Namun, Pram menolak permintaan maaf Gus Dur. Hal ini disebabkan, menurut Pram, Gus Dur cenderung takut pada Soeharto sehingga beberapa kali sowan kepada Soeharto. Bagi Pram rekonsiliasi harus dipakai dengan perspektif orang yang teraniaya, bukan yang menganiaya. Jadi, sulit dibayangkan jika inisiatif dan pelaksanaan rekonsiliasi dilakukan oleh yang menganiaya. Istilahnya Pram dengan keras mengatakan “Gampang amat minta maaf”.
                Pernyataan maaf Gus Dur atas perilaku yang pernah terjadi pada kelompok tradisinya di NU menjadi kontroversi di lingkungannya sendiri, yang terang-terangan menolak permintaan maaf tersebut, dan juga mendapat tantangan dari kalangan di luar tradisinya juga. Sudah begitu, permintaan maaf itu di tolak pula oleh Pram. Hal ini menjadi kontroversi dari kekerasan hati Pram. Sepertinya kedua tokoh ini bersaing ketat soal polemik dan kontroversi.

                Menurut Pram, Gus Dur bukanlah tipe seorang pemimpin yang bisa diharapkan. Baginya, Gus Dur  memang demokratis, tetapi hanya bisa membuat humor dan guyonan. Gus Dur tida tegas  terhadap kekuatan Orde Baru, bahkan beberapa kali menunjukan sikap melakukan rekonsiliasi dengan mantan pimpinan Orde Baru sendiri, yaitu Soeharto.

Minggu, 20 September 2015

Ide sederhana (diary)


                Yogyakarta adalah satu-satunya daerah di Indonesia dengan predikat Istemewa. Dan tentu saja predikat keistimewaan itu bisa di lihat dari daerah ataupun orangnya atau masyarakatnya seperti yang ada dalam liriknya lagu “Jogja Istimewa” yang di ciptakan oleh Jogja HipHop Foundation yaitu “Jogja jogja, jogja istimewa, istimewa negerinya istimewa orangnya. Dan salah satu dari keistimewaan kota Yogyakarta adalah dengan julukannya sebagai Kota Pelajar. Dan jika berbicara tentang pelajar itu tidak bisa dilepaskan dengan membaca. Dan ketika membicarakan tentang membaca yang tersirat dalam benak adalah perpustakan.
                Di dalam tulisan ini penulis akan menceritakan tentang sebuah ide yang muncul secara spontan di dalam perpustakan Kota Yogyakarta yang berada di Jl. Suroto No.9 Kotabaru, Yogyakarta. Hari itu tepatnya hari minggu 20 September 2015. Ya perpustakaan kota yang letaknya tak jauh dari toko buku Gramedia ini memang buka seminggu full. Dan untuk fasilitas sendiri sudah termasuk paling baik. Bukan hanya sekedar menyediakan bermacam-macam buku, tapi juga ada fasilitas free Wifi, Kantin, ruangan baca khusus anak-anak dll.
                Tepatnya sabtu malam tanggal 19 september 2015, penulis mendapat telvon dari pihak perpustakaan untuk bisa hadir dalam diskusi yang akan di adakan oleh pihak perpustakaan kota. Pada awalnya saya sendiri heran kenapa saya da suruh datang mengikuti diskusi, sementara saya sendiri tidak tahu diskusi apa yang akan dilakukan pihak perpustakaan sehingga harus meminta saya untuk hadir. Dan untuk menjawab keheranan saya itu, minggu pagi tepat pukul 08.00 saya sampai di perpustakaan sesuai dengan apa yang di minta oleh pihak perpus. Di pintu masuk perpustakaan saya menemui mas adit bagian receptionis. Belum juga saya menanyakan tentang kenapa pihak perpustakaan memanggil saya , mas adit langsung berkata “Sudah di tunggu di ruang diskusi mas”. Dengan wajah masih kebingungan saya langsung menuju ke ruang diskusi. Sampai di dalam ternyata di situ sudah di tunggu oleh beberapa staf dari pihak perpustakaan. Dan setelah di persilahkan duduk, Pak edi staf arsip perpustakaan kota yogyakarta yang sedang memimpin rapat diskusi langsung berkata. “Selamat datang mas arif, begini mas arif, kami sengaja melakukan diskusi disini dan secara khusus mengundang mas arif datang karena ini sebagai bentuk pertanggung jawaban pihak perpustakaan pihak perpustakaan atas kritik dan saran yang pernah di tulis mas arif kepada pihak perpustakaan yaitu dimana mas arif meminta di buat tempat ruangan khusus untuk diskusi, belajar kelompok, seminar yang disitu di sediakan proyektor. Dan disitu mas arif juga memberikan saran agar menggunakan salah satu sudut di lantai 2 yang terlihat kurang bermanfaat untuk di jadikan tempat itu.
                Mendapat penjelasan panjang lebar dari Pak Edi akhirnya saya baru sadar ternyata ini bentuk apresiasi dari pihak perpustakaan yogyakarta atas kritik dan saran yang pernah saya tulis dan saya masukan di dalam kotak kritik dan saran yang ada di pintu masuk perpustakaan. Walaupun saya masih tidak menyangka kalau kritik dan saran yang pernah saya tulis itu bakal di apresiasi seperti ini, karena waktu itu saya sendiri menulis kritik dan saran itu dalam keadaan masih marah karena saya masih membuat tugas di salah satu meja di lantai 1 ,tepat di sebelah saya ada sekelompok anak berseragam SMA yang nampaknya sedang kerja kelompok tapi dengan suara yang keras yang membuat orang-orang disekitarnya menjadi terganggu, sampai akhirnya saya harus pindah ke lantai 2. Dan saya melihat di satu sudut di lantai 2 terlihat sangat kurang terpakai karena ruangannya sendiri cukup luas tapi hanya di pakai untuk ruangan baca anak-anak dan beberapa meja untuk membaca. Dari situlah terbesit untuk memberi kritik dan saran itu.
                Kembali ke dalam ruangan diskusi, Mbak mega staf bendahara perpustakaan berkata: Begini mas arif, sebenarnya kritik dan saran mas arif itu sudah di diskusikan oleh pihak perpustakaan sejak lama, dan alhamdulilah proposal dari pihak perpustakaan pun sudah selesai, nah disini kami dari pihak perpustakaan mengundang mas arif sebagai orang yang sudah memberikan saran ini untuk memberikan nama untuk ruangan ini, dari pihak perpustakaan sendiri memberikan 3 pilihan yaitu:
1.       Ruang Diskusi pelajar
2.       Ruang Diskusi Perpustakaan
3.       Ruang Diskusi
Nah sebagai bentuk apresiasi kami dari pihak perpustakaan memberikan hak preogatif untuk kepada mas arif untuk memilih dari ketika nama tersebut (lanjut mba mega)
                Di ruangan itu saya belum bicara sepatah kata, tapi entah kenapa saya sudah di berikan hak preogatif seperti itu. menarik nafas dalam-dalam saya mencoba menjawab pertanyaan itu.
                “Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih atas apresiasinya, nah untuk pertanyaan itu sendiri semisal saya memberikan nama lain kira-kira boleh tidak ya? (saya ajukan pertanyaan sambil menatap wajah mba mega)
                Silahkan boleh mas (saut pak edi)
                Owh, yaudah monggo mas (sambung mba mega)
                “semisal ruangan itu diberi nama Raisa gimana? “
                Belum juga saya menjelaskan tapi ruangan diskusi yang sebelumnya berjalan tenang tiba-tiba langsung riuh dengan tawa. Saya sendiri jadi agak canggung, sampai akhirnya saya kembali melanjutkan pembicaraan.
                “begini Pak/Bu , dalam 3 nama yang di ajukan tadi kurang enak di dengar, pertama Ruang Diskusi Pelajar, kata pelajar seolah-olah hanya di tujukan untuk pelajar saja. Kedua, Ruang Diskusi Perpustakaan, di situ kata perpustakaan terlihat umum. Ketiga, Ruang Diskusi, itu malah lebih monoton. Jadi saya mengajukan agar ruangan itu diberi nama RAISA yang artinya Ruang Diskusi Bersama.
                Lagi-lagi ruang diskusi yang sudah tenang langsung riuh dengan tawa riya. Dan sampai akhirnya baik Pak Edi maupun Mbak mega serta semua staf setuju dengan ide yang saya berikan itu.
Walaupun namanya RAISA terdengar aneh karena saya sendiri mendapat ide itu setelah teringat dengan sosok Raisa seorang penyanyi Jazz yang fotonya saya jadikan foto sampul saat diskusi sedang berjalan.


Begitulah cerita di balik terbentuknya ruang RAISA yang sampai sekarang terus di pakai oleh para pengunjung perpustakaan Kota Yogyakarta, bahkan hampir setiap hari ruangan itu hampir tidak ada jeda untuk di pakai baik oleh pelajar, mahasiswa, dan pengunjung dari organisasi umum.

Si Tuli




                Di Khurasan ada seorang ulama besar bernama Khatim bin Alwin. Muridnya banyak, pengaruhnya luas, dan ilmunya tinggi. Tetapi, di tengah masyarakat ia memperoleh julukan Al-Asham atau si Tuli. Anehnya julukan yang biasanya untuk merendahkan itu buat Imam Khatim bin Alwan justru merupakan gelar kehormatan yang mengabadikan akhlak terpujinya sehingga ia dihargai oleh umat manusia sepanjan masa.
                Gelar buruk, namun terhormat itu didapatkan oleh Imam Khatim bin Alwan ketika pada suatu ketika seorang gadis cantik keturunan bangsawan datang ketempat ia biasa memberikan pelajaran yang juga merupakan tempat penyimpanan ratusan kitab-kitab karyanya. Gadis cantik itu bermaksud menanyakan suatu masalah yang dibutuhkan jawabannya dengan segera.
                Ketika sudah dipersilahkan masuk, tiba-tiba gadis itu terlepas kentutnya, walaupun pelan tapi bunyinya terdengar nyaring. Imam Khatim terkejut. Baru kali ini ia mendengar orang kentut di mukanya, apalagi seorang gadis.
                Si gadis cantik, begitu mendengar kentutnya sendiri, betapapun pelannya, mendadak merah padam wajahnya lantaran malu sekali. Apalagi yang ada di hadapannya adalah seorang ulama besar yang di hormati oleh segala lapisan masyarakat, termasuk raja dan pembesar-pembesar kerajaan.
                Namun, alangkah leganya gadis cantik itu tatkala Imam Khatim bertanya dengan suara sangat keras. “Coba ulangi, apa keperluanmu?”
                Dengan lantang gadis cantik itu menanyakan suatu masalah yang sedang di alaminya. Sudah keras sekali suara gadis itu, tapi Imam Khatim pura-pura tidak mendengar. Padahal bunyi jarum jam pun telinganya masih dapat mendengar. Tetapi Imam Khatim masih juga berteriak keras, “Lebih keras lagi suaramu. Aku tidak mendengar. Apa kamu tidak tahu, aku ini sejak seminggu yang lalu menjadi budek, pekak, tuli akibat demam panas?.
                Mendengar pengakuan Imam Khatim tersebut. Si gadis cantik makin bersinar wajahnya. Sebab ia berpikir, kalau suaranya yang sudah keras saja Imam Khatim tidak bisa mendengar apalagi bunyi kentutnya yang halus, pasti Imam Khatim tidak mendengarnya.